BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Asma adalah penyakit
imflamasi kronis saluran pernapasan dengan komponen herediter mayor, terkait
pada kromosom 5, 6, 11, 12, 14, 16, dan
reseptor IgE dengan afinitas tinggi, sitokin, reseptor T-sel antigen. Keadaan
ini juga dihubungkan dengan dengan mutasi gen ADAM-33 pada rantai pendek
kromosom 20 pada individu yang terpapar rokok, influenza stimulasi alergi
akibat lingkungan ( ilmu kebidanan sarwono prawiroharjo 2008)
Kehamilan akan menimbulkan perubahan yang luas terhadap
sebagian besar pada fisiologi organ-organ tubuh sehubungan dengan rahim yang
membesar bersama dengan tuanya kehamilan sehingga rongga dada menjadi sempit
dan gerakan paru akan terbatas untuk mengambil O2 selama pernapasan, ini akan
mengakibatkan gangguan pernapasan yaitu Asma.
Dalam penatalaksanaannya pun juga akan berbeda antara
Asma dalam
kehamilan
dan persalinan dengan asma pada wanita yang tidak sedang hamil.
Di
indonesia prevelensi asma sekitar 5-6% dari populasi. Prevelensi asma dalam
kehamilan seekitar 3,7 - 4%. Hal tersebut membuat asma menjadi salah satu
permasalahan yang biasa ditemukan dalam kehamilan.
1.2 Rumusan Masalah.
- Apa pengertian dari Asma?
- Apa etiologi dari Asma?
- Bagaimana tanda dan gejala dari Asma.
- Bagaimana Patofisiologi dari Asma?
- Bagaimana cara menentukan diagnosa pada Asma ?
- Bagaimana cara penatalaksanaan Asma pada kehamilan ?
- Bagaimana pencegahan Asma ?
- Bagaimana Asuhan Kebidanan pada ibu hamil dengan Asma ?
1.3 Tujuan
A.
Tujuan Umum.
Agar mahasiswa mempu mendeteksi dini penyulit. Penyulit kehamilan terutama pada kehamilan dan persalinan yang disertai
oleh Asma.
- Tujuan Khusus.
1) Untuk
mengetahui pengertian dari Asma.
2) Untuk
mengetahui etiologi dari Asma.
3) Untuk
mengetahui tanda gejala Asma.
4) Untnuk
mengetahui patofiologi dari Asma.
5) Untuk
mengetahui cara menentukan diagnosa pada Asma.
6) Untuk
mengetahui penatalaksanaan dari Asma pada kehamilan.
7) Untuk
mengetahui pencegahan terhadap Asma.
8) Untuk
mengetahui Asuhan Kebidanan ibu hamil dengan Asma.
1.4 Manfaat.
Dengan disusunya makalah Asma pada kehamilan dengan
Asuhan Kebidanannya diharapkan dapat menambah wawasan mahasiswa DIII kebidanan
pada khususnya dan pembaca.
BAB II
TINJAUAN TEORI
1.Definisi Asma
Asma adalah kondisi dimana otot-otot bronchi (saluran
udara pada paru) mengalami kontraksi penyimpitan sehingga menyulitkan
pernapasan.
Asma bronkial adalah suatu penyakit dengan ciri
meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan
manifestasi adanya penyimpitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat
berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan. Kejadian ibu
hamil dengan penyakit asma sekitar 0,4 – 1,3% dan 1% memerlukan perawatan
intensif. Perubahan asma pada kehamilan tetap, membaik, dapat bertambah buruk
Dampak asma dalam kehamilan adalah kekurangan O2 (PO2
kurang dari 59 mmHg) sehingga menimbulkan prematuritas, BBLR, morbiditas atau
mortalitas perinatal meningkat. Pengobatan asma pada ibu hamil tidak
dijumpai kontraindikasi pada pengobatan yang umum digunakan. Persalinan pada
ibu hamil dengan asma pervaginam dan mungkin diperlukan percepatan kala II,
seksio sesaria atas indikasi obstetrik.
2. Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asma bronkhial.
a. Faktor
Predisposisi
Genetik.
Dimana yang diturunkan adalah bakat
alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas
penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga
menderita alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah
terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain
itu hipersentifisitas saluran pernapasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor
Prepisitas
· Alergen
Dimana alergen dapat dibagai menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Inhalan, yang masuk melalui
saluran pernapasan
Ex : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur,
bakteri dan polusi
2. Ingestan, yahg masuk melalui
mulut
Ex : Makanan dan obat-obatan
3. Kontaktan, yang masuk melalui
kontak dengan kulit.
Ex : perhiasan, logam, dan jam tangan
·
Perubahan Cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu
terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim,
seperti : musim hujan, musim kemarau, musim bunga,. Hal ini berhubungan dengan
arah angin serbuk bunga danb debu
·
Stress
Stress / gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan
asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping
gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami
stress atau gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa
diobati.
·
Lingkungan Kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya
serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang
bekerja dilaboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polusi lalu
lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
·
Olahraga / aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktifitas.
3.Tanda dan Gejala Asma
o Kesulitan bernafas
o Kenaikan denyut nadi
o Nafas berbunyi, terutama saat menghembuskan udara
o Batuk kering
o Kejang otot di sekitar dada
Adapun tingkatan klinik asma dapat dilihat pad atabel
berikut dibawah ini :
|
Tingkatan
|
PO2
|
PCO2
|
pH
|
FEVI
(% predicted)
|
|
Alkalosis
respiratori ringan
Alkalosis
respiratori
Tingkat
waspada
Asidosis
respiratori
|
Normal
↓
↓
↓
|
↓
↓
Normal
↓
|
↑
↑
Normal
↑
|
65 –
80
50 –
64
35 –
49
<
35
|
Pada kasus asma sedang, hipoksia pada awalnya dapat
dikompensasi oleh hiperventilasi sebagai refleksi dari PO2 arteri
normal, menurunnya PO2 dan alkalosis respiratori. Pada obstruksi
berat, ventilasi menjadi berat karena Fatigue menjadikan retensi CO2.
pada hiperventilasi, keadaan ini hanya dapat dilihat sebagai PO2
arteri yang berubah menjadi normal. Akhirnya pada obstruksi berat yang diikuti
kegagalan pernafasan dengan karakteristik hiperkapnia dan asedemia.
4. Gejala klinis
Penilaian secara
subjektif tidak dapat secara akurat menentukan derajat asma. Gejala klinik
bervariasi dari wheezing ringan
sampai
bronkokontriksi
berat. Pada keadaaan ringan, hipoksia dapat dikompensasi hiperventilasi,
ditandai dengan PO2 normal, penurunan PCO2 dan alkalosis respirasi. Namun, bila
bertambah berat akan terjadi kelelahan yang menyebabkan retensi CO2 akibat
hiperventilasi, ditandai dengan PCO2 yang kembali normal. Bila terjadi gagal
nafas, ditandai asidosis, hiperkapnea, adanya pernapasan dalam, takikardi,
polpus paradoksus, ekspirasi memanjang, penggunaan otot asesoris pernafasan,
sianosis sentral, sampai gangguan kesadaran. Keadaaan ini bersifat reversible
dan dapat ditoleransi. Namun, pada kehamilan sangat berbahaya akibat adanya
penurunan kapasitas residu.
Analisis gas
darah merupakan penilaian objektif oksigenasi maternal, ventilasi, keseimbangan
asam basa. Pemeriksaan fungsi paru merupakan penanganan rutin pada semua pasien
asma kronis dan akut. Pengukuran FEV sekuensial merupakan gold standart yang menggambarkan derajat asma. FEV < 1 L (<
20%) menggambarkan asma berat. Peak Expiratory Flow Rate (PEFR) berkolerasi
erat dengan FEV dan dapat diukur dengan spirometri dengan mudah.
1.
Tingkat I :
a.
Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan
fungsi paru
b.
Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun
dengan test provokasi bronkial di laboratorium
2. Tingkat II :
a.
Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru
menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
b.
Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
3. Tingkat III :
a. Tanpa keluhan.
b. Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya
obstruksi jalan nafas.
c.
Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali.
4. Tingkat IV :
a.
Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi
wheezing.
b.
Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda
obstruksi jalan nafas
5. Tingkat V :
a.
Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa
serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan
yang lazim dipakai.
b.
Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas
yang reversibel.Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti :Kontraksi
otot-otot pernafasan, cyanosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih,
taki kardi.
5.
Jenis-Jenis Asma
Asma dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
a. Asma interisik (berasal
dari dalam)
Yang sebab serangannya tidak diketahui
b. Asma eksterisik (berasal dari
luar)
Yang pemicu serangannya berasal dari luar tubuh (biasanya
lewat pernafasan)
Serangan asma dapat berlangsung singkat atau
berhari-hari. Bisanya serangan dimulai hanya beberapa menit setelah timbulnya
pemicu. Frekuensi asma berbeda-beda pada tiap penderita. Serangan asma yang
hebat dapat menyebabkan kematian
6.
Patofisiologi
Asma adalah peradangan kronik saluran nafas dengan
herediter utama. Peningkatan respon saluran nafas dan peradangan berhubungan
dengan gen pada kromosom 5, 6,11, 12, 14 & 16 termasuk reseptor Ig E yang
afinitasnya tinggi, kelompok gen sitokin dan reseptor antigen Y –Cell sedangkan
lingkungan yang menjadi alergen tergantung individu masing-masing seperti
influenza atau rokok. Asma merupakan obstruksi saluran nafas yang reversible
dari kontraksi otot polos bronkus, hipersekresi mukus dan edem mukosa. Terjadi
peradangan di saluran nafas dan menjadi responsive terhadap beberapa rangsangan
termasuk zat iritan, infeksi virus, aspirin, air dingin dan olahraga. Aktifitas
sel mast oleh sitokin menjadi media konstriksi bronkus dengan lepasnya
histamine, prostalgladine D2 dan leukotrienes. Karena prostagladin
seri F dan ergonovine dapat menjadikan asma, maka penggunaanya sebagai
obat-obat dibidang obstetric sebaiknya dapat dihindari jika memungkinkan.
6. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya :
-
Kristal-kristal charcot leyden yang
merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.
-
Spiral curshmann, yakni yang merupakan
cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
-
Crede yang merupakan fragmen dari epitel
bronkus.
-
Netrofil dan eosinofil yang terdapat
pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang
terdapat mucus plug.
b.
Pemeriksaan darah
-
Analisa gas darah pada umumnya normal
akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
-
Kadang pada darah terdapat peningkatan
dari SGOT dan LDH
-
Hiponatremia dan kadar leukosit
kadang-kadang diatas 15000 / mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu
infeksi.
-
Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi
terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas
dari serangan.
7. Pemeriksaan Penunjang
a.
Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada
waktu serangan menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni
radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma
yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan
yang didapat adalah sebagai berikut :
§ Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak dihilus akan bertambah
§ Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan
semakin bertambah.
§
Bila terdapat komplikasi, maka terdapat
gambaran infiltratepada paru.
§ Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
§ Bila terjadi penuomonia mediastinum, pneuomotoraks dan penuomoperi kardium,
maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
b. Pemeriksaan tes
kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai
alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Tes kulit :
Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh.
Tes
provokasi : Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus, Tes provokasi
dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri. Tes provokasi bronkial
seperti :Tes provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani,
hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aquci destilata.
c. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjaid selama serangan
dapat dibagi menjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi
pada empisema paru, yaitu :
§ Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan
clock wise rotation
§ Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB
(Right Bundle Branch Block)
§ Tanda – tanda hipoksemia, yakni sinus tachycardia, SVES dan VES atau
terjadinya depresi segmen ST negative.
d. Scanning Paru
Dengan scaning paru melalui inhalasi dapat dipelajari
bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru
e. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas
reversible, cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat
respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan
sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer)
golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20%
menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih
dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidka saja penting untuk menegakkan diagnosis
tetapi juga penting untuk berat obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita
tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi
f. USG
Ibu hamil penderita asma sebaiknya rajin memeriksakan
janinnya sejak awal. Pemeriksaan dengan USG dilakukan sejak usia kehamilan 12 –
20 minggu untuk mengetahui pertumbuhan janin. USG dapat diulang pada TM II dan
TM III terutama bila derajat asmanya berada pada tingkat sedang – berat g Electronic
Fetal Heart rate Monitoring Untuk memeriksa detak jantung
janin
8. Penatalaksanaan
Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :
a. Menghilangkan
obstruksi jalan nafas dengan segera.
b. Mengenal
dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma.
c.
Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit
asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga
penderita mengerti tujuan pengobatannya yang diberikan dan bekerja sama dengan
dokter atauperawat yang merawatnya.
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2 , yaitu :
1. Pengobatan non
Farmakologik.
Memberikan penyuluhan
Menghindari faktor pencetus
Pemberian cairan
Fisiotherapy
Beri O2 bila perlu
2. Pengobatan Farmakologi
a.
Bronkodilator yang melebarkan saluran
nafas
Seperti aminofilin atai kortikosteroid inhalasi atau oral
pada serangan asma ringan. Obat antiasma umumnya tidak berpengaruh
negatife terhadap janin kecuali adrenalin.
§ Adrenalin mempengaruhi pertumbuhan janin karena
penyempitan pembuluh daraj ke
janin yang dapat mengganggu oksigenasi pada janin tersebut.
§ Aminofilin dapat menyebabkan penurunan kontraksi uterus
b.
Menangani serangan asma akut (sama
dengan wanita tidak hamil), yaitu :
§ Memberikan cairan intravena
§ Mengencerkan cairan sekresi di paru
§ Memberikan oksigen (setelah pengukuran PO2, PCO2)
sehingga tercapai PO2 lebih 60 mmHG dengan kejenuhan 95% oksigen
atau normal.
§ Cek fungsi paru
§ Cek janin
§ Memberikan obat kortikosteroid
c.
Menangani status asmatikus dengan gagal
nafas
§ Secepatnya melakukan intubasi bila tidak terjadi perubahan setelah
pengobatan intensif selama 30 – 60 menit
§ Memberikan antibiotik saat menduga terjadi infeksi
d.
Mengupayakan persalinan
§ Persalinan spontan dilakukan saat pasien tidak berada dalam serangan
§ Melakukan ekstraksi vakum atau forseps saat pasien berada dalam serangan
§ Seksio sesarea atas indikasi asma jarang atau tidak pernah dilakukan.
§ Meneruskan pengobatan reguler asma selama proses kelahiran.
§ Jangan memberikan analgesik yang mengandung histamin tetapi pilihlah morfin
atau analgesik epidural.
§ Hati-hati pada tindakan intubasi dan penggunaan prostagladin E2 karena
dapat menyebabkan bronkospasme.
e.
Memilih obat yang tidak mempengaruhi air
susu.
§ Aminofilin dapat terkandung dalam air susu sehingga bayi akan mengalami
gangguan pencernaan, gelisah dan gangguan tidur.
§ Obat antiasma lainnya dan kortikosteroid umumnya tidak berbahaya karena
kadarnya dalam air susu sangat kecil
§
9.
Pengaruh Terhadap Kehamilan &
Persalinan
§ Keguguran
§ Persalinan prematur
§ Pertumuhan janin terhambat
Kompensasi yang terjadi pada fetus adalah :
-
Menurunnya aliran darah pada uterus
-
Menurunnya venous return ibu
-
Kurva dissosiasi oksi ttb bergeser ke kiri
Sedangkan
pada ibu yang hipoksemia, respon fetus yang terjadi :
-
Menurunnya aliran darah ke pusat
-
Meningkatnya resistensi pembuluh darah paru dan sistemik
-
Menurunnya cardiac output
Perlu
diperhatikan efek samping pemberian obat-obatan asma terhadap fetus, walaupun
tidak ada bukti bahwa pemakaian obat – obat anti asma akan
membahayakan
asma.
10. Hal-Hal Untuk Mencegah Agar Tidak
Terjadi Serangan Asma Selama Hamil
-
Jangan merokok
-
Kenali faktor pencetus
-
Hindari flu, batuk, pilek atau infeksi
saluran nafas lainnya. Kalu tubuh terkena flu segera obati. Jangan tunda
pengobatan kalu ingin asma kambuh.
-
Bila tetap mendapat serangan asma,
segera berobat untuk menghindari terjadinya kekurangan oksigen pada janin
-
Hanya makan obat-obatan yang dianjurkan
dokter.
-
Hindari faktor risiko lain selama kehamilan
-
Jangan memelihara kucing atau hewan
berbulu lainnya.
-
Pilih tempat tinggal yang jauh dari
faktor polusi, juga hindari lingkungan dalam rumah dari perabotan yang membuat
alergi. Seperti bulu karpet, bulu kapuk, asap rokok, dan debu yang menempel di
alat-alat rumah tangga.
-
Hindari stress dan ciptakan lingkungan
psikologis yang tenang
-
Sering – sering melakukan rileksasi dan
mengatur pernafasan
-
Lakukan olahraga atau senam asma, agar
daya tahan tubuh makin kuat sehingga tahan terhadap faktor pencetus.
B.
KONSEP DASAR MENAJEMEN KEBIDANAN
Proses manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan
masalah. Proses ini merupakan sebuah metode dengan pengorganisasian pemikiran
dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis dan menguntungkan baik bagi
klien maupun bagi tenaga kesehatan. Proses ini menguraikan bagaimana prilaku
yang diharapkan dari pemberi asuhan. Proses manajemen ini bukan hanya terdiri
dari pemikiran dan tindakan saja melainkan juga prilaku pada setiap langkah
agar pelayanan yang komprehensif dan aman dapat di capai. Dengan demikian proses
manajemen harus mengikuti urutan yang logis dan memeberikan pengertian yang
menyatukan pengetahuan,hasil temuan,dan penilaian yang terpisah-pisah menjadi
satu kesatuan yang berfokus pada manajemen klien(varney,1997)
Proses manajemen menurut varney(1997) terdiri dari 7 langkah
yang berurutan diamana setiap langkah di smepurnakan secara periodik. Proses di
mulai dengan mengumpulkan data dasar& berakhir dengan evaluasi. Ketujuh
langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang dapat di aplikasikan dalam
situasi apapun.
Langkah-langkah
penerapan manajemen kebidanan di lakukan secara berkesinambungan, yaitu:
1.
Mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengidentifikasi
pasien secara lengkap
2.
Mengidentifikasi masalah atau diagnosa berdasarkaan interpretasi
yang benar dari data tersebut.
3.
Mengantisipasi masalah potensial atau diagnosa lainnya yang
mungkin terjadi karena masalah atau diagnosa yang telah di identifikasi
4.
Mengevaluasi perlunya intervensi segera oleh bidan atau
dokter
5.
Mengembangkan rencana asuhan yang menyeluruh
6.
Mengembangkan rencana asuhan tersebut secara efisien dan aman
7.
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang telah diberikan
Langkah-langkah dalam penatalaksanaan pada dasarnya
jelas, akan tetapi dalam pembahasan singkat mengenai langkah-langkah tersebut
mungkin akan lebih memperjelas proses pemikiran dalam proses klinis yang
berorientasi pada langkah ini.
Ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut:
Langkah 1:
Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan
sistematis untuk mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data
sehingga dapat di ketahui masalah dan keadaan klien. Pada langkah pertama ini
di kumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan
dengan kondisi klien.
Data-data yang di
kumpulkan meliputi:
1.Data Subjektif
a. Biodata atau identitas klien dan suami
Yang perlu
dikaji:nama,umur,agama,suku,pendidikan,pekerjaan dan alamat
(maksud pertanyaan ini adalah untuk mengidentifikasi
atau mengenal klien)
b. Keluhan utama
Merupakan alasan utama klien untuk datang ke RS dan
apa-apa saja yang dirsakan klien. Kemungkinan yang ditemui pada kehamilan
dengan ASMA adalah: Kesulitan bernafas, Kenaikan denyut
nadi,
Nafas berbunyi, terutama saat
menghembuskan udara, Batuk kering dan Kejang otot di sekitar dada.
c. Riwayat perkawinan
Kemungkinan di ketahui status perkawinan, umur waktu
kawin, berapa lama kawin baru hamil
Jika kehamilan dengan asma
ini biasanya ibu + mengidap asma
d. Riwayat menstruasi
Yang ditanyakan adalah HPHT untuk menentukan taksiran
persaliann, siklus, lama, banyaknya, bau, warna, dan apakah nyeri waktu haid, serta
kapan mendapat haid pertama kalinya.
e. Riwayat obstetric yang lalu
Jika ibu mengalami kehamilan dengan asma kemungkinan
ibu mengidap asma +
f. Riwayat kehamilan sekarang
-
kemungkinan ibu merasakan
pergerakan janin
-
kemungkinan kapan merasakan gerakan janin pertama kali
-
kemungkinan apakah ada pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesehatan,mendapatkan imunisasi TT, an tablet
Fe
-
kemungkinan adanya tanda dan gejala ibu mengidap asma +
g. Riwayat kesehatan
Pada kehamilan dengan asma kemungkinan ibu mengidap asma
+ (ini di lakukan untuk mengetahui kesehatan dan keadaan ibu)
h. Riwayat kesehatan keluarga
Kemungkinan ada anggota keluarga yang menderita
penyakit keturunan,penyakit menular, atau riwayat asma (pengkajian terhadap
kesehatan keluarga)
i.
Riwayat
kontrasepsi
Kemungkinan ibu pernah menggunakan alat kontrasepsi
atau tidak.
j.
Riwayat
seksualitas
Kemungkinan ibu mengalami tanda dan gejala mengidap
asma, dan apakah aktifitasnya normal atau ada gangguan.
k. Riwayat sosial,ekonomi dan budaya
Kemungkinan hubungan ibu dengan suami, keluarga baik.
Dan kemungkinan hubungan ibu, suami dan keluarga di masyarakat kurang baik, kemungkinan
ekonomi yang kurang mencukupi, serta adanya ketidaknyamanan di dalam lingkungan
sekitar.
l.
Riwayat spiritual
Kemungkinan ibu melakukan ibadah agama dan
kepercayaannya dengan baik
m. Riwayat psikologis
Kemungkinan adanya tanggapan ibu dan keluarga yang
baik terhadap kehamilan dan persalinan ini. Kemungkinan ibu dan suaminya
mengharapkan dan senang dengan kehamilan
ini atau kemungkinan ibu cemas dan gelisah dengan kehamilannya.
n. Kebutuhan dasar
Kemungkinan
pemenuhan kebutuhan bio-psiko yang meliputi pemenuhan nutrisi, proses
eliminasi, aktifitas sehari-hari, istirahat, personal hygiene dan kebiasaan-kebiasaan yang
dapat mempengaruhi kesehatan saat hamil dan bersalin.
2. Data Objektif
Data
di kumpulkan melalui pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus
a. Pemeriksaan umum.
Secara teoritis kemungkinan di temukan gambaran
keadaan umum klien baik, yang mencakup kesadaran, tekanan darah, nadi, nafas, suhu, tinggi badan, berat badan, dan
keadaan umum
Pada keadaan asma :keadaan
umum ibu kurang baik , kesadaran compos mentis
b. Pemeriksaan khusus
1.
Secara inspeksi
Yaitu pemeriksaan pandang yang dinilai dari kepala sampai
kaki. Yang dinilai ialah kemungkinan bentuk tubuh yang normal,kebersihan kulit,
rambut, muka, conjunctiva, sklera, hidung,dan telinga. Mulut apakah ada caries
dentis, stomatitis, karang gigi, leher apakah ada pemebesaran kalenjer gondok, payudara
apakah simetris kiri dan kanan, keadaan puting susu menonjol atau tidak.
Kolostrum ada atau tidak, perut membesar sesuai dengan tua kehamilan, apakah
ada bekas luka operasi, vulva apakah bersih, ada varises atau tidak, oedema dan
pengeluaran dari vagina. Anus apakah ada haemoroid,ekstremitas atas dan bawah
apakah ada kelainan.
Didapatkan pada ibu kehamilan asma:
- muka tidak oedema
- muka tidak oedema
-konjunctiva anemis
-sklera tidak ikterik
-gigi bersih tidak ada karies
-kalenjer thyroid tidak ada pembesaran
-mamae membesar kiri kanan,simetris,areola
hyperpigmentasi,putting susu menonjol,kolostrum belum keluar, tidak ada
benjolan.
2.
Secara palpasi
Dengan
menggunakan cara leopold, kemungkinan yang ditemukan ialah:
Leopold 1: Tinggi fundus uteri dalam cm, pada fundus
kemungkinan teraba bagian kepala,bokong
atau lainnya
Leopold 2 : Pada dinding perut sebelah kiri atau kanan
kemungkinan teraba punggung, anggota gerak atau bokong atau kepala
Leopold 3: Pada bagian terbawah kemungkinan teraba
kepala,bokong ataupun yang lainnya.
Leopold 4: kemungkinan bagian terbawah janin telah
masuk pintu atas panggul dan seberapa jauh masuknya di hitung dengan per limaan
jari
3.
Secara auskultasi
Kemungkinan dapat terdengar
bunyi jantung janin,frekuensinya teratur atau tidak,dan posisi punctum maximumnya.
4.
Secara perkusi
Kemungkinan refleks patella kiri dan kanan positif
5.
Pemeriksaan ukuran
panggul
Kemungkinan
normal atau tidak dengan menggunakan pengukuran jangka panggul
6.
Pemeriksaan tafsiran
berat janin(TBJ)
Kemungkinan berat badan
janin Dengan rumus: (TFU dalam cm-13)155
c. Pemeriksaan Penunjang
1.
Laboratorium:
a. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan
untuk melihat adanya :
Ø Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.
Ø Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang
bronkus.
Ø Crede yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
Ø Netrofil dan eosinofil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid
dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
b. Pemeriksaan darah
Ø Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
Ø Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH
Ø Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang diatas 15000 / mm3
dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.
Ø Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada
waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.
2.
USG
Kemungkinan
keadaan janin dalam keadaan baik/tidak
3.
pemeriksaan cardiografi(CTG)
Kemungkinan normal/tidak
4.
.pemeriksaan amnioskopi
Kemungkinan normal/tidak
5.
pemeriksaan sitologi
Kemungkinan normal/tidak
Langkah
2: Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap
masalah atau diagnosa dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi data yang
benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah di kumpulkan
di interpretasikan sehingga di temukan masalah atau diagnosa yang spesifik.
Kata masalah dan diagnosa
keduanya digunakan karena beberapa masalah tiak dapat di selesaikan seperti
diagnosa membutuhkan penangananan yang dituangkan dalam sebuah rencana asuhan
terhadap klien. Masalah ini sering menyertai diagnosa. Diagnosa yang di
tegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan harus memenuhi standar
nomenklatur diagnosa kebidanan, yaitu:
1.
Diakui dan telah disahkan oleh profesi
2.
Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
3.
Memiliki ciri khas kebidanan
4.
Dapat diselesaikan dengan pendekatan amanjemen kebidanan
5.
Di dukung oleh clinial judgement dalam lingkup praktek
kebidanan
Berdasarkan kasus kehamilan
dengan asma ini,maka kemungkinan interpretasi data yang timbul adalah:
a. Diagnosa
kebidanan
1)
Kehamilan dengan asma,G..,P..,A..,H
Dasar :HPHT, TP, gerakan janin(+), dan hasil labor
(+)
Kemungkinan masalah yang timbul adalah prematuritas
dan BBLR
Dasar: ibu mengidap HIV/AIDS (+)
b. Kebutuhan
1)
Dukungan psikologis
Dasar:kehamilan dengan asma(+)
2)
kebersihan vulva
Dasar: menciptakan rasa
nyaman, pencegahan infeksi
3).dll
Langkah
3: Mengidentifikasi Diagnosa Atau Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa
potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah di
identifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi,bila memungkinkan dilakukan
pencegahan sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bial
diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi.
Kemungkinan diagnosa atau
masalah potensial yang timbul:
a. Pada janin
Janin lahir prematuritas dan
BBLR
Langkah
4: Identifikasi Kebutuhan Yang Memerlukan Penanganan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau
dokter dan untuk di konsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim
kesehatan lainnya yang sesuai dengan kondisi klien.
Kemungkinan tindakan segera
pada kasus kehamilan dengan asma ini adalah:
a. Janin lahir
prematuritas dan BBLR
Tindakan yang segera
diberikan adalah:
-
Kolaborasi dengan dokter spesialis kandungan
Langkah
5: Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh
Suatu rencana asuhan yang harus di setujui oleh kedua belah
pihak baik bidan maupun klien agar perencanaan dapat dilakukan dengan efektif.
Semua keputusan harus bersifat rasional dan valid berdasarkan teori serta
asumsi yang berlaku tentang apa yang akan dan tiadk dilakukakn. Perencanaan
tindakan yang mungkin dilakukan pada kasus kehamilan dengan asma ini adalah:
1.
lakukan konseling pra dan pasca test asma dengan memberitahu
ibu hasil pemeriksaan
2.
anjurkan ibu untuk cukup istirahat
3.
anjurkan ibu makan makanan yang tinggi kalori dan tinggi
protein secara teratur dan menghindari makanan dengan bahan pengawet.
4.
Anjurkan ibu untuk banyak minum air putih 8 gelas/hari paling
sedikit.
5.
beri ibu tablet Fe dan jelaskan cara mengkonsumsinya
6.
anjurkan ibu minum obat atas intruksi/kolaborasi dengan
dokter yaitu obat aminofilin atai kortikosteroid inhalasi
atau oral
7.
anjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya ke dokter
spesialis kandungan
8.
beritahu ibu bahwa ibu mengidap penyakit asma dan
persalinannya nanti tidak bisa di tolong oleh bidan.
9.
beritahu ibu untuk dapat melakukan kunjungan ulang 2 minggu
lagi
10. beritahu ibu
mengenai tanda bahaya kehamilan seperti perdarahan pervaginam yang
tiba-tiba,sakit kepala yang hebat, pandangan kabur, keluar air-air yang banyak
dari vagina sebelum usia kandungan 9 bulan.
11. beritahu ibu cara
ber KB yang baik dan aman bagi ibu bila ibu telah melahirkan nanti
12. beritahu ibu
bahwa ibu tidak di anjurkan untuk menyusui bayinya ketika selesai proses
persalinan. karena mengingat resiko dapat menularkan kepada bayinya.
13. dokumentasikan
hasil pemeriksaan dan asuhan yang telah diberikan.
Langkah VI :
Melaksanakan Perencanaan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh yang telah
diuraikan pada langkah kelima dilakukan secara efesian dan aman. Perencanaan
ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan dan sebagian oleh klien, atau anggota
kesehatan lainya. Jika bidan tidak melakukan sendiri, ia tetap melakukan
sendiri, bidan tetap memiliki tanggung jawab sendiri dalam menjalani tugasnya.
Bila bidan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan seperti dokter untuk menangani
klien yang mengalami komplikasi maka keterlibatan bidan dalam manejemen asuhan
bagi klien adalah tetap tanggung jawab terhadap tugasnya untuk melaksanakan
rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efesien akan
menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dari asuhan klien.
Beberapa tindakan yang mungkin dapat dilakukan antara
lain :
1.
melakukan konseling pra dan pasca test asma dengan
memberitahu ibu hasil pemeriksaan
2.
Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat
3.
Menganjurkan ibu makan makanan yang tinggi kalori dan tinggi
protein secara teratur dan menghindari makanan dengan bahan pengawet.
4.
Menganjurkan ibu untuk banyak minum air putih 8 gelas/hari
paling sedikit.
5.
Memberi ibu tablet Fe dan menjelaskan cara mengkonsumsinya
6.
Menganjurkan ibu minum obat atas intruksi/kolaborasi dengan
dokter yaitu obat aminofilin atai kortikosteroid inhalasi
atau oral
7.
Menganjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya ke dokter
spesialis kandungan
8.
Memberitahu ibu bahwa ibu mengidap penyakit asma dan
persalinannya nanti tidak bisa di tolong oleh bidan.
9.
Memberitahu ibu untuk dapat melakukan kunjungan ulang 2
minggu lagi
10. Memberitahu ibu
mengenai tanda bahaya kehamilan seperti perdarahan pervaginam yang
tiba-tiba,sakit kepala yang hebat, pandangan kabur, keluar air-air yang banyak
dari vagina sebelum usia kandungan 9 bulan.
11. Memberitahu ibu
cara ber KB yang baik dan aman bagi ibu bila ibu telah melahirkan nanti
12. Memberitahu ibu
bahwa ibu tidak di anjurkan untuk menyusui bayinya ketika selesai proses
persalinan. karena mengingat resiko dapat menularkan kepada bayinya.
13. Mendokumentasikan
hasil pemeriksaan dan asuhan yang telah diberikan.
Langkah VII :
Evaluasi
Adalah merupakan hal terakhir yang dilakukan dari
proses asuhan kebidanan kehamilan disertai dengan asma. Asuhan menajemen
kebidanan dilakukan secara kontiniu sehingga perlu dievaluasisetiap tindakan
yang telah diberikan agar lebih efektif kemungkinan hasil evaluasi yang
ditemukan :
c.
Tercapainya seluruh perencanaan tindakan
d.
Tercapai sebagian dari perencanaan tindakan sehingga
dibutuhkan revis
DATA FOKUS
Data Subjektif:
Ny. W 28
tahun,Indonesia, Islam, SMA, ibu rumah tangga, dengan suami Tn. S, 35 tahun,
Indonesia, islam, SMA , buruh, gaji Rp. 600.000-/bulan, beralamatkan di
Jln.Melati No. 20 Kota sepi antah berantah. Pada tanggal 01 April 2013, pukul
11.00 WIB. Dengan keluhan Kesulitan bernafas, Kenaikan denyut
nadi, Nafas berbunyi, terutama saat menghembuskan udara, Batuk kering dan
Kejang otot di sekitar dada, ibu mengaku ini kehamilan yang pertama, usia
kehamilannya 7 bulan, bengan HPHT 07-9-2012, dengan riwayat menstruasi lamamnya
7 hari, siklus 28 hari dan ibu mengatakan bahwa ibunya mengidap asma + sejak
masih muda, Ny. W menikah sudah 9 tahun yang lalu. Ibu mengatakan pergerakan
janinnya ada 7 kali dalam sehari, dan ibu menyatakan dari hasil pemeriksaan tes
laboratorium darah pertamanya Analisa gas darah umumnya normal
akan tetapi terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis, pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan
LDH, Hiponatremia dan kadar leukosit diatas 15000 / mm3 dimana
menandakan terdapatnya suatu infeksi, Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi
terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas
dari serangan.
Data Objektif:
KU kurang baik,
kesadaran compos mentis, TD 110/70 mmHg, Nadi 89x/menit, Pernafasan 30x /menit,
suhu 38,5 ° C, BB 50 kg, BB sebelum 65kg, TB 163 cm, LILA 24 cm.Pada
pemeriksaan penunjang darah Analisa gas darah umumnya normal
akan tetapi terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis, pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan
LDH, Hiponatremia dan kadar leukosit diatas 15000 / mm3 dimana
menandakan terdapatnya suatu infeksi, Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi
terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas
dari serangan.
Assesment
diagnosa ibu
G1P0A0H0 usia kehamilan 28 minggu disertai asma bronkialis ,janin hidup,
tunggal, interauterin .
potensial masalah
hipoksia pada janin, tindakan segera membantu memperlancar pernafasan ibu
dengan tindakan :
atur posisi,
bersihkan jalan lahir dan berikan oksigen.
Planning
a.
Beritahu bu hasil pemeriksaan
b.
Menganjurkan ibu untuk tidur dengan posisi powler
c.
Memberikan oksigen pada ibu untuk membantu asupan oksigen
agar tidak terjadi hipoksia pada janin
d.
Memberikan dukungan emosional pada ibu agar tidak stress
e.
Memberitahu ibu penyebab penyakit asma adalah fakor allergen
f.
Menganjurkan ibu agar tidak kelelahan
g.
Menganjurkan ibu untuk menghindari asap
h.
Menganjurkan ibu untuk memeriksakan dirinya kepada dokter
spesialis
i.
Memberitahu ibu untuk kunjungan ulang
j.
Memberitahu ibu tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan tentang
tanda-tanda bahaya pada penyakit asma
BAB IIII
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ø Asma adalah
penyakit imflamasi kronis saluran pernapasan dengan komponen herediter mayor,
terkait pada kromosom 5, 6, 11, 12, 14,
16, dan reseptor IgE dengan afinitas tinggi, sitokin, reseptor T-sel antigen.
Keadaan ini juga dihubungkan dengan dengan mutasi gen ADAM-33 pada rantai
pendek kromosom 20 pada individu yang terpapar rokok, influenza stimulasi
alergi akibat lingkungan ( ilmu kebidanan sarwono prawiroharjo 2008)
Ø
Asma bronkial adalah suatu
penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai
rangsangan dengan manifestasi adanya penyimpitan jalan nafas yang luas dan
derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan.
Kejadian ibu hamil dengan penyakit asma sekitar 0,4 – 1,3% dan 1% memerlukan
perawatan intensif. Perubahan asma pada kehamilan tetap, membaik, dapat
bertambah buruk
Ø
Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi
dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial.
a. Faktor Predisposisi
b. Faktor Prepisitas
Ø Tanda dan Gejala Asma Kesulitan
bernafas, Kenaikan denyut nadi, Nafas berbunyi, terutama saat menghembuskan
udara, Batuk kering, Kejang otot di sekitar dada
Ø Gejala klinis
Penilaian secara
subjektif tidak dapat secara akurat menentukan derajat asma.
Ø Jenis-Jenis Asma
a. Asma interisik (berasal
dari dalam)
b. Asma eksterisik (berasal dari
luar)
Ø Dapat dilakukan
pemeriksaan laboratorium seperti : Pemeriksaan
Sputum, Pemeriksaan darah
Ø Dapat juga dilakukan pemeriksaan penunjang
seperti:PemeriksaanRadiologi, Pemeriksaan tes kulit,
Elektrokardiografi, Scanning Paru, Spirometri dan USG
Ø Pengaruh asma
dalam kehamilan adalah keguguran, persalinan premature dan pertumbuhan janin
terhambat.
Ø Pencegahan agar
tidak terjadi serangan asma selama hamil dengan cara jangan merokok, mengenali
factor pencetus, hindari flu, batuk, pilek atau infeksi saluran nafas lainnya.
Ø Konsep manajemen
asuhan kebidan pada kehamilan dengan asma menggunakan cara verney:
-
Mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengidentifikasi
pasien secara lengkap
-
Mengidentifikasi masalah atau diagnosa berdasarkaan
interpretasi yang benar dari data tersebut.
-
Mengantisipasi masalah potensial atau diagnosa lainnya yang
mungkin terjadi karena masalah atau diagnosa yang telah di identifikasi
-
Mengevaluasi perlunya intervensi segera oleh bidan atau
dokter
-
Mengembangkan rencana asuhan yang menyeluruh
-
Mengembangkan rencana asuhan tersebut secara efisien dan aman
-
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang telah diberikan
B.
Saran
a.
Untuk Petugas
-
Mampu melasanakan asuhan kebidanan pada
ibu yang menderita penyakit asama dalam persalinan
-
Meningkatkan ushaa pencegahan infeksi
baik untuk klien maupun petugas.
-
Mampu memberikan KIE yang dibutuhkan
pada kala I, II, III & IV
b. Untuk pasien dan keluarga
-
Lebih kooperatif dalam pelaksanaan
asuhan kebidanan yang diberikan
-
Melaksanakan anjuran-anjuran yang
diberikan
c. Untuk Mahasiswa
-
lebih menguasai teori sehingga mampu
menerapkan dalam praktek
-
Lebih banyak membaca buku-buku /
referensi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.
DAFTAR PUSTAKA
Manuaba,dkk, Pengantar Kuliah obstetri,2007, Jakarta:
EGC
Yeyeh ai,
Yulianti Lia, Asuhan Kebidanan 4(Patologi
Kebidanan), 2010, Jakarta: TIM
Prawirohardjo
Sarwono, Ilmu Kebidanan Edisi keempat
Cetakan kedua, 2009, Jakarta: P.T Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Asma adalah penyakit
imflamasi kronis saluran pernapasan dengan komponen herediter mayor, terkait
pada kromosom 5, 6, 11, 12, 14, 16, dan
reseptor IgE dengan afinitas tinggi, sitokin, reseptor T-sel antigen. Keadaan
ini juga dihubungkan dengan dengan mutasi gen ADAM-33 pada rantai pendek
kromosom 20 pada individu yang terpapar rokok, influenza stimulasi alergi
akibat lingkungan ( ilmu kebidanan sarwono prawiroharjo 2008)
Kehamilan akan menimbulkan perubahan yang luas terhadap
sebagian besar pada fisiologi organ-organ tubuh sehubungan dengan rahim yang
membesar bersama dengan tuanya kehamilan sehingga rongga dada menjadi sempit
dan gerakan paru akan terbatas untuk mengambil O2 selama pernapasan, ini akan
mengakibatkan gangguan pernapasan yaitu Asma.
Dalam penatalaksanaannya pun juga akan berbeda antara
Asma dalam
kehamilan
dan persalinan dengan asma pada wanita yang tidak sedang hamil.
Di
indonesia prevelensi asma sekitar 5-6% dari populasi. Prevelensi asma dalam
kehamilan seekitar 3,7 - 4%. Hal tersebut membuat asma menjadi salah satu
permasalahan yang biasa ditemukan dalam kehamilan.
1.2 Rumusan Masalah.
- Apa pengertian dari Asma?
- Apa etiologi dari Asma?
- Bagaimana tanda dan gejala dari Asma.
- Bagaimana Patofisiologi dari Asma?
- Bagaimana cara menentukan diagnosa pada Asma ?
- Bagaimana cara penatalaksanaan Asma pada kehamilan ?
- Bagaimana pencegahan Asma ?
- Bagaimana Asuhan Kebidanan pada ibu hamil dengan Asma ?
1.3 Tujuan
A.
Tujuan Umum.
Agar mahasiswa mempu mendeteksi dini penyulit. Penyulit kehamilan terutama pada kehamilan dan persalinan yang disertai
oleh Asma.
- Tujuan Khusus.
1) Untuk
mengetahui pengertian dari Asma.
2) Untuk
mengetahui etiologi dari Asma.
3) Untuk
mengetahui tanda gejala Asma.
4) Untnuk
mengetahui patofiologi dari Asma.
5) Untuk
mengetahui cara menentukan diagnosa pada Asma.
6) Untuk
mengetahui penatalaksanaan dari Asma pada kehamilan.
7) Untuk
mengetahui pencegahan terhadap Asma.
8) Untuk
mengetahui Asuhan Kebidanan ibu hamil dengan Asma.
1.4 Manfaat.
Dengan disusunya makalah Asma pada kehamilan dengan
Asuhan Kebidanannya diharapkan dapat menambah wawasan mahasiswa DIII kebidanan
pada khususnya dan pembaca.
BAB II
TINJAUAN TEORI
1.Definisi Asma
Asma adalah kondisi dimana otot-otot bronchi (saluran
udara pada paru) mengalami kontraksi penyimpitan sehingga menyulitkan
pernapasan.
Asma bronkial adalah suatu penyakit dengan ciri
meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan
manifestasi adanya penyimpitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat
berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan. Kejadian ibu
hamil dengan penyakit asma sekitar 0,4 – 1,3% dan 1% memerlukan perawatan
intensif. Perubahan asma pada kehamilan tetap, membaik, dapat bertambah buruk
Dampak asma dalam kehamilan adalah kekurangan O2 (PO2
kurang dari 59 mmHg) sehingga menimbulkan prematuritas, BBLR, morbiditas atau
mortalitas perinatal meningkat. Pengobatan asma pada ibu hamil tidak
dijumpai kontraindikasi pada pengobatan yang umum digunakan. Persalinan pada
ibu hamil dengan asma pervaginam dan mungkin diperlukan percepatan kala II,
seksio sesaria atas indikasi obstetrik.
2. Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asma bronkhial.
a. Faktor
Predisposisi
Genetik.
Dimana yang diturunkan adalah bakat
alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas
penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga
menderita alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah
terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain
itu hipersentifisitas saluran pernapasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor
Prepisitas
· Alergen
Dimana alergen dapat dibagai menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Inhalan, yang masuk melalui
saluran pernapasan
Ex : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur,
bakteri dan polusi
2. Ingestan, yahg masuk melalui
mulut
Ex : Makanan dan obat-obatan
3. Kontaktan, yang masuk melalui
kontak dengan kulit.
Ex : perhiasan, logam, dan jam tangan
·
Perubahan Cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu
terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim,
seperti : musim hujan, musim kemarau, musim bunga,. Hal ini berhubungan dengan
arah angin serbuk bunga danb debu
·
Stress
Stress / gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan
asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping
gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami
stress atau gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa
diobati.
·
Lingkungan Kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya
serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang
bekerja dilaboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polusi lalu
lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
·
Olahraga / aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktifitas.
3.Tanda dan Gejala Asma
o Kesulitan bernafas
o Kenaikan denyut nadi
o Nafas berbunyi, terutama saat menghembuskan udara
o Batuk kering
o Kejang otot di sekitar dada
Adapun tingkatan klinik asma dapat dilihat pad atabel
berikut dibawah ini :
|
Tingkatan
|
PO2
|
PCO2
|
pH
|
FEVI
(% predicted)
|
|
Alkalosis
respiratori ringan
Alkalosis
respiratori
Tingkat
waspada
Asidosis
respiratori
|
Normal
↓
↓
↓
|
↓
↓
Normal
↓
|
↑
↑
Normal
↑
|
65 –
80
50 –
64
35 –
49
<
35
|
Pada kasus asma sedang, hipoksia pada awalnya dapat
dikompensasi oleh hiperventilasi sebagai refleksi dari PO2 arteri
normal, menurunnya PO2 dan alkalosis respiratori. Pada obstruksi
berat, ventilasi menjadi berat karena Fatigue menjadikan retensi CO2.
pada hiperventilasi, keadaan ini hanya dapat dilihat sebagai PO2
arteri yang berubah menjadi normal. Akhirnya pada obstruksi berat yang diikuti
kegagalan pernafasan dengan karakteristik hiperkapnia dan asedemia.
4. Gejala klinis
Penilaian secara
subjektif tidak dapat secara akurat menentukan derajat asma. Gejala klinik
bervariasi dari wheezing ringan
sampai
bronkokontriksi
berat. Pada keadaaan ringan, hipoksia dapat dikompensasi hiperventilasi,
ditandai dengan PO2 normal, penurunan PCO2 dan alkalosis respirasi. Namun, bila
bertambah berat akan terjadi kelelahan yang menyebabkan retensi CO2 akibat
hiperventilasi, ditandai dengan PCO2 yang kembali normal. Bila terjadi gagal
nafas, ditandai asidosis, hiperkapnea, adanya pernapasan dalam, takikardi,
polpus paradoksus, ekspirasi memanjang, penggunaan otot asesoris pernafasan,
sianosis sentral, sampai gangguan kesadaran. Keadaaan ini bersifat reversible
dan dapat ditoleransi. Namun, pada kehamilan sangat berbahaya akibat adanya
penurunan kapasitas residu.
Analisis gas
darah merupakan penilaian objektif oksigenasi maternal, ventilasi, keseimbangan
asam basa. Pemeriksaan fungsi paru merupakan penanganan rutin pada semua pasien
asma kronis dan akut. Pengukuran FEV sekuensial merupakan gold standart yang menggambarkan derajat asma. FEV < 1 L (<
20%) menggambarkan asma berat. Peak Expiratory Flow Rate (PEFR) berkolerasi
erat dengan FEV dan dapat diukur dengan spirometri dengan mudah.
1.
Tingkat I :
a.
Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan
fungsi paru
b.
Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun
dengan test provokasi bronkial di laboratorium
2. Tingkat II :
a.
Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru
menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
b.
Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
3. Tingkat III :
a. Tanpa keluhan.
b. Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya
obstruksi jalan nafas.
c.
Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali.
4. Tingkat IV :
a.
Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi
wheezing.
b.
Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda
obstruksi jalan nafas
5. Tingkat V :
a.
Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa
serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan
yang lazim dipakai.
b.
Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas
yang reversibel.Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti :Kontraksi
otot-otot pernafasan, cyanosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih,
taki kardi.
5.
Jenis-Jenis Asma
Asma dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
a. Asma interisik (berasal
dari dalam)
Yang sebab serangannya tidak diketahui
b. Asma eksterisik (berasal dari
luar)
Yang pemicu serangannya berasal dari luar tubuh (biasanya
lewat pernafasan)
Serangan asma dapat berlangsung singkat atau
berhari-hari. Bisanya serangan dimulai hanya beberapa menit setelah timbulnya
pemicu. Frekuensi asma berbeda-beda pada tiap penderita. Serangan asma yang
hebat dapat menyebabkan kematian
6.
Patofisiologi
Asma adalah peradangan kronik saluran nafas dengan
herediter utama. Peningkatan respon saluran nafas dan peradangan berhubungan
dengan gen pada kromosom 5, 6,11, 12, 14 & 16 termasuk reseptor Ig E yang
afinitasnya tinggi, kelompok gen sitokin dan reseptor antigen Y –Cell sedangkan
lingkungan yang menjadi alergen tergantung individu masing-masing seperti
influenza atau rokok. Asma merupakan obstruksi saluran nafas yang reversible
dari kontraksi otot polos bronkus, hipersekresi mukus dan edem mukosa. Terjadi
peradangan di saluran nafas dan menjadi responsive terhadap beberapa rangsangan
termasuk zat iritan, infeksi virus, aspirin, air dingin dan olahraga. Aktifitas
sel mast oleh sitokin menjadi media konstriksi bronkus dengan lepasnya
histamine, prostalgladine D2 dan leukotrienes. Karena prostagladin
seri F dan ergonovine dapat menjadikan asma, maka penggunaanya sebagai
obat-obat dibidang obstetric sebaiknya dapat dihindari jika memungkinkan.
6. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya :
-
Kristal-kristal charcot leyden yang
merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.
-
Spiral curshmann, yakni yang merupakan
cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
-
Crede yang merupakan fragmen dari epitel
bronkus.
-
Netrofil dan eosinofil yang terdapat
pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang
terdapat mucus plug.
b.
Pemeriksaan darah
-
Analisa gas darah pada umumnya normal
akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
-
Kadang pada darah terdapat peningkatan
dari SGOT dan LDH
-
Hiponatremia dan kadar leukosit
kadang-kadang diatas 15000 / mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu
infeksi.
-
Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi
terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas
dari serangan.
7. Pemeriksaan Penunjang
a.
Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada
waktu serangan menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni
radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma
yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan
yang didapat adalah sebagai berikut :
§ Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak dihilus akan bertambah
§ Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan
semakin bertambah.
§
Bila terdapat komplikasi, maka terdapat
gambaran infiltratepada paru.
§ Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
§ Bila terjadi penuomonia mediastinum, pneuomotoraks dan penuomoperi kardium,
maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
b. Pemeriksaan tes
kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai
alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Tes kulit :
Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh.
Tes
provokasi : Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus, Tes provokasi
dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri. Tes provokasi bronkial
seperti :Tes provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani,
hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aquci destilata.
c. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjaid selama serangan
dapat dibagi menjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi
pada empisema paru, yaitu :
§ Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan
clock wise rotation
§ Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB
(Right Bundle Branch Block)
§ Tanda – tanda hipoksemia, yakni sinus tachycardia, SVES dan VES atau
terjadinya depresi segmen ST negative.
d. Scanning Paru
Dengan scaning paru melalui inhalasi dapat dipelajari
bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru
e. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas
reversible, cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat
respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan
sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer)
golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20%
menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih
dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidka saja penting untuk menegakkan diagnosis
tetapi juga penting untuk berat obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita
tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi
f. USG
Ibu hamil penderita asma sebaiknya rajin memeriksakan
janinnya sejak awal. Pemeriksaan dengan USG dilakukan sejak usia kehamilan 12 –
20 minggu untuk mengetahui pertumbuhan janin. USG dapat diulang pada TM II dan
TM III terutama bila derajat asmanya berada pada tingkat sedang – berat g Electronic
Fetal Heart rate Monitoring Untuk memeriksa detak jantung
janin
8. Penatalaksanaan
Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :
a. Menghilangkan
obstruksi jalan nafas dengan segera.
b. Mengenal
dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma.
c.
Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit
asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga
penderita mengerti tujuan pengobatannya yang diberikan dan bekerja sama dengan
dokter atauperawat yang merawatnya.
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2 , yaitu :
1. Pengobatan non
Farmakologik.
Memberikan penyuluhan
Menghindari faktor pencetus
Pemberian cairan
Fisiotherapy
Beri O2 bila perlu
2. Pengobatan Farmakologi
a.
Bronkodilator yang melebarkan saluran
nafas
Seperti aminofilin atai kortikosteroid inhalasi atau oral
pada serangan asma ringan. Obat antiasma umumnya tidak berpengaruh
negatife terhadap janin kecuali adrenalin.
§ Adrenalin mempengaruhi pertumbuhan janin karena
penyempitan pembuluh daraj ke
janin yang dapat mengganggu oksigenasi pada janin tersebut.
§ Aminofilin dapat menyebabkan penurunan kontraksi uterus
b.
Menangani serangan asma akut (sama
dengan wanita tidak hamil), yaitu :
§ Memberikan cairan intravena
§ Mengencerkan cairan sekresi di paru
§ Memberikan oksigen (setelah pengukuran PO2, PCO2)
sehingga tercapai PO2 lebih 60 mmHG dengan kejenuhan 95% oksigen
atau normal.
§ Cek fungsi paru
§ Cek janin
§ Memberikan obat kortikosteroid
c.
Menangani status asmatikus dengan gagal
nafas
§ Secepatnya melakukan intubasi bila tidak terjadi perubahan setelah
pengobatan intensif selama 30 – 60 menit
§ Memberikan antibiotik saat menduga terjadi infeksi
d.
Mengupayakan persalinan
§ Persalinan spontan dilakukan saat pasien tidak berada dalam serangan
§ Melakukan ekstraksi vakum atau forseps saat pasien berada dalam serangan
§ Seksio sesarea atas indikasi asma jarang atau tidak pernah dilakukan.
§ Meneruskan pengobatan reguler asma selama proses kelahiran.
§ Jangan memberikan analgesik yang mengandung histamin tetapi pilihlah morfin
atau analgesik epidural.
§ Hati-hati pada tindakan intubasi dan penggunaan prostagladin E2 karena
dapat menyebabkan bronkospasme.
e.
Memilih obat yang tidak mempengaruhi air
susu.
§ Aminofilin dapat terkandung dalam air susu sehingga bayi akan mengalami
gangguan pencernaan, gelisah dan gangguan tidur.
§ Obat antiasma lainnya dan kortikosteroid umumnya tidak berbahaya karena
kadarnya dalam air susu sangat kecil
§
9.
Pengaruh Terhadap Kehamilan &
Persalinan
§ Keguguran
§ Persalinan prematur
§ Pertumuhan janin terhambat
Kompensasi yang terjadi pada fetus adalah :
-
Menurunnya aliran darah pada uterus
-
Menurunnya venous return ibu
-
Kurva dissosiasi oksi ttb bergeser ke kiri
Sedangkan
pada ibu yang hipoksemia, respon fetus yang terjadi :
-
Menurunnya aliran darah ke pusat
-
Meningkatnya resistensi pembuluh darah paru dan sistemik
-
Menurunnya cardiac output
Perlu
diperhatikan efek samping pemberian obat-obatan asma terhadap fetus, walaupun
tidak ada bukti bahwa pemakaian obat – obat anti asma akan
membahayakan
asma.
10. Hal-Hal Untuk Mencegah Agar Tidak
Terjadi Serangan Asma Selama Hamil
-
Jangan merokok
-
Kenali faktor pencetus
-
Hindari flu, batuk, pilek atau infeksi
saluran nafas lainnya. Kalu tubuh terkena flu segera obati. Jangan tunda
pengobatan kalu ingin asma kambuh.
-
Bila tetap mendapat serangan asma,
segera berobat untuk menghindari terjadinya kekurangan oksigen pada janin
-
Hanya makan obat-obatan yang dianjurkan
dokter.
-
Hindari faktor risiko lain selama kehamilan
-
Jangan memelihara kucing atau hewan
berbulu lainnya.
-
Pilih tempat tinggal yang jauh dari
faktor polusi, juga hindari lingkungan dalam rumah dari perabotan yang membuat
alergi. Seperti bulu karpet, bulu kapuk, asap rokok, dan debu yang menempel di
alat-alat rumah tangga.
-
Hindari stress dan ciptakan lingkungan
psikologis yang tenang
-
Sering – sering melakukan rileksasi dan
mengatur pernafasan
-
Lakukan olahraga atau senam asma, agar
daya tahan tubuh makin kuat sehingga tahan terhadap faktor pencetus.
B.
KONSEP DASAR MENAJEMEN KEBIDANAN
Proses manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan
masalah. Proses ini merupakan sebuah metode dengan pengorganisasian pemikiran
dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis dan menguntungkan baik bagi
klien maupun bagi tenaga kesehatan. Proses ini menguraikan bagaimana prilaku
yang diharapkan dari pemberi asuhan. Proses manajemen ini bukan hanya terdiri
dari pemikiran dan tindakan saja melainkan juga prilaku pada setiap langkah
agar pelayanan yang komprehensif dan aman dapat di capai. Dengan demikian proses
manajemen harus mengikuti urutan yang logis dan memeberikan pengertian yang
menyatukan pengetahuan,hasil temuan,dan penilaian yang terpisah-pisah menjadi
satu kesatuan yang berfokus pada manajemen klien(varney,1997)
Proses manajemen menurut varney(1997) terdiri dari 7 langkah
yang berurutan diamana setiap langkah di smepurnakan secara periodik. Proses di
mulai dengan mengumpulkan data dasar& berakhir dengan evaluasi. Ketujuh
langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang dapat di aplikasikan dalam
situasi apapun.
Langkah-langkah
penerapan manajemen kebidanan di lakukan secara berkesinambungan, yaitu:
1.
Mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengidentifikasi
pasien secara lengkap
2.
Mengidentifikasi masalah atau diagnosa berdasarkaan interpretasi
yang benar dari data tersebut.
3.
Mengantisipasi masalah potensial atau diagnosa lainnya yang
mungkin terjadi karena masalah atau diagnosa yang telah di identifikasi
4.
Mengevaluasi perlunya intervensi segera oleh bidan atau
dokter
5.
Mengembangkan rencana asuhan yang menyeluruh
6.
Mengembangkan rencana asuhan tersebut secara efisien dan aman
7.
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang telah diberikan
Langkah-langkah dalam penatalaksanaan pada dasarnya
jelas, akan tetapi dalam pembahasan singkat mengenai langkah-langkah tersebut
mungkin akan lebih memperjelas proses pemikiran dalam proses klinis yang
berorientasi pada langkah ini.
Ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut:
Langkah 1:
Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan
sistematis untuk mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data
sehingga dapat di ketahui masalah dan keadaan klien. Pada langkah pertama ini
di kumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan
dengan kondisi klien.
Data-data yang di
kumpulkan meliputi:
1.Data Subjektif
a. Biodata atau identitas klien dan suami
Yang perlu
dikaji:nama,umur,agama,suku,pendidikan,pekerjaan dan alamat
(maksud pertanyaan ini adalah untuk mengidentifikasi
atau mengenal klien)
b. Keluhan utama
Merupakan alasan utama klien untuk datang ke RS dan
apa-apa saja yang dirsakan klien. Kemungkinan yang ditemui pada kehamilan
dengan ASMA adalah: Kesulitan bernafas, Kenaikan denyut
nadi,
Nafas berbunyi, terutama saat
menghembuskan udara, Batuk kering dan Kejang otot di sekitar dada.
c. Riwayat perkawinan
Kemungkinan di ketahui status perkawinan, umur waktu
kawin, berapa lama kawin baru hamil
Jika kehamilan dengan asma
ini biasanya ibu + mengidap asma
d. Riwayat menstruasi
Yang ditanyakan adalah HPHT untuk menentukan taksiran
persaliann, siklus, lama, banyaknya, bau, warna, dan apakah nyeri waktu haid, serta
kapan mendapat haid pertama kalinya.
e. Riwayat obstetric yang lalu
Jika ibu mengalami kehamilan dengan asma kemungkinan
ibu mengidap asma +
f. Riwayat kehamilan sekarang
-
kemungkinan ibu merasakan
pergerakan janin
-
kemungkinan kapan merasakan gerakan janin pertama kali
-
kemungkinan apakah ada pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesehatan,mendapatkan imunisasi TT, an tablet
Fe
-
kemungkinan adanya tanda dan gejala ibu mengidap asma +
g. Riwayat kesehatan
Pada kehamilan dengan asma kemungkinan ibu mengidap asma
+ (ini di lakukan untuk mengetahui kesehatan dan keadaan ibu)
h. Riwayat kesehatan keluarga
Kemungkinan ada anggota keluarga yang menderita
penyakit keturunan,penyakit menular, atau riwayat asma (pengkajian terhadap
kesehatan keluarga)
i.
Riwayat
kontrasepsi
Kemungkinan ibu pernah menggunakan alat kontrasepsi
atau tidak.
j.
Riwayat
seksualitas
Kemungkinan ibu mengalami tanda dan gejala mengidap
asma, dan apakah aktifitasnya normal atau ada gangguan.
k. Riwayat sosial,ekonomi dan budaya
Kemungkinan hubungan ibu dengan suami, keluarga baik.
Dan kemungkinan hubungan ibu, suami dan keluarga di masyarakat kurang baik, kemungkinan
ekonomi yang kurang mencukupi, serta adanya ketidaknyamanan di dalam lingkungan
sekitar.
l.
Riwayat spiritual
Kemungkinan ibu melakukan ibadah agama dan
kepercayaannya dengan baik
m. Riwayat psikologis
Kemungkinan adanya tanggapan ibu dan keluarga yang
baik terhadap kehamilan dan persalinan ini. Kemungkinan ibu dan suaminya
mengharapkan dan senang dengan kehamilan
ini atau kemungkinan ibu cemas dan gelisah dengan kehamilannya.
n. Kebutuhan dasar
Kemungkinan
pemenuhan kebutuhan bio-psiko yang meliputi pemenuhan nutrisi, proses
eliminasi, aktifitas sehari-hari, istirahat, personal hygiene dan kebiasaan-kebiasaan yang
dapat mempengaruhi kesehatan saat hamil dan bersalin.
2. Data Objektif
Data
di kumpulkan melalui pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus
a. Pemeriksaan umum.
Secara teoritis kemungkinan di temukan gambaran
keadaan umum klien baik, yang mencakup kesadaran, tekanan darah, nadi, nafas, suhu, tinggi badan, berat badan, dan
keadaan umum
Pada keadaan asma :keadaan
umum ibu kurang baik , kesadaran compos mentis
b. Pemeriksaan khusus
1.
Secara inspeksi
Yaitu pemeriksaan pandang yang dinilai dari kepala sampai
kaki. Yang dinilai ialah kemungkinan bentuk tubuh yang normal,kebersihan kulit,
rambut, muka, conjunctiva, sklera, hidung,dan telinga. Mulut apakah ada caries
dentis, stomatitis, karang gigi, leher apakah ada pemebesaran kalenjer gondok, payudara
apakah simetris kiri dan kanan, keadaan puting susu menonjol atau tidak.
Kolostrum ada atau tidak, perut membesar sesuai dengan tua kehamilan, apakah
ada bekas luka operasi, vulva apakah bersih, ada varises atau tidak, oedema dan
pengeluaran dari vagina. Anus apakah ada haemoroid,ekstremitas atas dan bawah
apakah ada kelainan.
Didapatkan pada ibu kehamilan asma:
- muka tidak oedema
- muka tidak oedema
-konjunctiva anemis
-sklera tidak ikterik
-gigi bersih tidak ada karies
-kalenjer thyroid tidak ada pembesaran
-mamae membesar kiri kanan,simetris,areola
hyperpigmentasi,putting susu menonjol,kolostrum belum keluar, tidak ada
benjolan.
2.
Secara palpasi
Dengan
menggunakan cara leopold, kemungkinan yang ditemukan ialah:
Leopold 1: Tinggi fundus uteri dalam cm, pada fundus
kemungkinan teraba bagian kepala,bokong
atau lainnya
Leopold 2 : Pada dinding perut sebelah kiri atau kanan
kemungkinan teraba punggung, anggota gerak atau bokong atau kepala
Leopold 3: Pada bagian terbawah kemungkinan teraba
kepala,bokong ataupun yang lainnya.
Leopold 4: kemungkinan bagian terbawah janin telah
masuk pintu atas panggul dan seberapa jauh masuknya di hitung dengan per limaan
jari
3.
Secara auskultasi
Kemungkinan dapat terdengar
bunyi jantung janin,frekuensinya teratur atau tidak,dan posisi punctum maximumnya.
4.
Secara perkusi
Kemungkinan refleks patella kiri dan kanan positif
5.
Pemeriksaan ukuran
panggul
Kemungkinan
normal atau tidak dengan menggunakan pengukuran jangka panggul
6.
Pemeriksaan tafsiran
berat janin(TBJ)
Kemungkinan berat badan
janin Dengan rumus: (TFU dalam cm-13)155
c. Pemeriksaan Penunjang
1.
Laboratorium:
a. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan
untuk melihat adanya :
Ø Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.
Ø Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang
bronkus.
Ø Crede yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
Ø Netrofil dan eosinofil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid
dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
b. Pemeriksaan darah
Ø Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
Ø Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH
Ø Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang diatas 15000 / mm3
dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.
Ø Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada
waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.
2.
USG
Kemungkinan
keadaan janin dalam keadaan baik/tidak
3.
pemeriksaan cardiografi(CTG)
Kemungkinan normal/tidak
4.
.pemeriksaan amnioskopi
Kemungkinan normal/tidak
5.
pemeriksaan sitologi
Kemungkinan normal/tidak
Langkah
2: Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap
masalah atau diagnosa dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi data yang
benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah di kumpulkan
di interpretasikan sehingga di temukan masalah atau diagnosa yang spesifik.
Kata masalah dan diagnosa
keduanya digunakan karena beberapa masalah tiak dapat di selesaikan seperti
diagnosa membutuhkan penangananan yang dituangkan dalam sebuah rencana asuhan
terhadap klien. Masalah ini sering menyertai diagnosa. Diagnosa yang di
tegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan harus memenuhi standar
nomenklatur diagnosa kebidanan, yaitu:
1.
Diakui dan telah disahkan oleh profesi
2.
Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
3.
Memiliki ciri khas kebidanan
4.
Dapat diselesaikan dengan pendekatan amanjemen kebidanan
5.
Di dukung oleh clinial judgement dalam lingkup praktek
kebidanan
Berdasarkan kasus kehamilan
dengan asma ini,maka kemungkinan interpretasi data yang timbul adalah:
a. Diagnosa
kebidanan
1)
Kehamilan dengan asma,G..,P..,A..,H
Dasar :HPHT, TP, gerakan janin(+), dan hasil labor
(+)
Kemungkinan masalah yang timbul adalah prematuritas
dan BBLR
Dasar: ibu mengidap HIV/AIDS (+)
b. Kebutuhan
1)
Dukungan psikologis
Dasar:kehamilan dengan asma(+)
2)
kebersihan vulva
Dasar: menciptakan rasa
nyaman, pencegahan infeksi
3).dll
Langkah
3: Mengidentifikasi Diagnosa Atau Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa
potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah di
identifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi,bila memungkinkan dilakukan
pencegahan sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bial
diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi.
Kemungkinan diagnosa atau
masalah potensial yang timbul:
a. Pada janin
Janin lahir prematuritas dan
BBLR
Langkah
4: Identifikasi Kebutuhan Yang Memerlukan Penanganan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau
dokter dan untuk di konsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim
kesehatan lainnya yang sesuai dengan kondisi klien.
Kemungkinan tindakan segera
pada kasus kehamilan dengan asma ini adalah:
a. Janin lahir
prematuritas dan BBLR
Tindakan yang segera
diberikan adalah:
-
Kolaborasi dengan dokter spesialis kandungan
Langkah
5: Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh
Suatu rencana asuhan yang harus di setujui oleh kedua belah
pihak baik bidan maupun klien agar perencanaan dapat dilakukan dengan efektif.
Semua keputusan harus bersifat rasional dan valid berdasarkan teori serta
asumsi yang berlaku tentang apa yang akan dan tiadk dilakukakn. Perencanaan
tindakan yang mungkin dilakukan pada kasus kehamilan dengan asma ini adalah:
1.
lakukan konseling pra dan pasca test asma dengan memberitahu
ibu hasil pemeriksaan
2.
anjurkan ibu untuk cukup istirahat
3.
anjurkan ibu makan makanan yang tinggi kalori dan tinggi
protein secara teratur dan menghindari makanan dengan bahan pengawet.
4.
Anjurkan ibu untuk banyak minum air putih 8 gelas/hari paling
sedikit.
5.
beri ibu tablet Fe dan jelaskan cara mengkonsumsinya
6.
anjurkan ibu minum obat atas intruksi/kolaborasi dengan
dokter yaitu obat aminofilin atai kortikosteroid inhalasi
atau oral
7.
anjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya ke dokter
spesialis kandungan
8.
beritahu ibu bahwa ibu mengidap penyakit asma dan
persalinannya nanti tidak bisa di tolong oleh bidan.
9.
beritahu ibu untuk dapat melakukan kunjungan ulang 2 minggu
lagi
10. beritahu ibu
mengenai tanda bahaya kehamilan seperti perdarahan pervaginam yang
tiba-tiba,sakit kepala yang hebat, pandangan kabur, keluar air-air yang banyak
dari vagina sebelum usia kandungan 9 bulan.
11. beritahu ibu cara
ber KB yang baik dan aman bagi ibu bila ibu telah melahirkan nanti
12. beritahu ibu
bahwa ibu tidak di anjurkan untuk menyusui bayinya ketika selesai proses
persalinan. karena mengingat resiko dapat menularkan kepada bayinya.
13. dokumentasikan
hasil pemeriksaan dan asuhan yang telah diberikan.
Langkah VI :
Melaksanakan Perencanaan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh yang telah
diuraikan pada langkah kelima dilakukan secara efesian dan aman. Perencanaan
ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan dan sebagian oleh klien, atau anggota
kesehatan lainya. Jika bidan tidak melakukan sendiri, ia tetap melakukan
sendiri, bidan tetap memiliki tanggung jawab sendiri dalam menjalani tugasnya.
Bila bidan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan seperti dokter untuk menangani
klien yang mengalami komplikasi maka keterlibatan bidan dalam manejemen asuhan
bagi klien adalah tetap tanggung jawab terhadap tugasnya untuk melaksanakan
rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efesien akan
menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dari asuhan klien.
Beberapa tindakan yang mungkin dapat dilakukan antara
lain :
1.
melakukan konseling pra dan pasca test asma dengan
memberitahu ibu hasil pemeriksaan
2.
Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat
3.
Menganjurkan ibu makan makanan yang tinggi kalori dan tinggi
protein secara teratur dan menghindari makanan dengan bahan pengawet.
4.
Menganjurkan ibu untuk banyak minum air putih 8 gelas/hari
paling sedikit.
5.
Memberi ibu tablet Fe dan menjelaskan cara mengkonsumsinya
6.
Menganjurkan ibu minum obat atas intruksi/kolaborasi dengan
dokter yaitu obat aminofilin atai kortikosteroid inhalasi
atau oral
7.
Menganjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya ke dokter
spesialis kandungan
8.
Memberitahu ibu bahwa ibu mengidap penyakit asma dan
persalinannya nanti tidak bisa di tolong oleh bidan.
9.
Memberitahu ibu untuk dapat melakukan kunjungan ulang 2
minggu lagi
10. Memberitahu ibu
mengenai tanda bahaya kehamilan seperti perdarahan pervaginam yang
tiba-tiba,sakit kepala yang hebat, pandangan kabur, keluar air-air yang banyak
dari vagina sebelum usia kandungan 9 bulan.
11. Memberitahu ibu
cara ber KB yang baik dan aman bagi ibu bila ibu telah melahirkan nanti
12. Memberitahu ibu
bahwa ibu tidak di anjurkan untuk menyusui bayinya ketika selesai proses
persalinan. karena mengingat resiko dapat menularkan kepada bayinya.
13. Mendokumentasikan
hasil pemeriksaan dan asuhan yang telah diberikan.
Langkah VII :
Evaluasi
Adalah merupakan hal terakhir yang dilakukan dari
proses asuhan kebidanan kehamilan disertai dengan asma. Asuhan menajemen
kebidanan dilakukan secara kontiniu sehingga perlu dievaluasisetiap tindakan
yang telah diberikan agar lebih efektif kemungkinan hasil evaluasi yang
ditemukan :
c.
Tercapainya seluruh perencanaan tindakan
d.
Tercapai sebagian dari perencanaan tindakan sehingga
dibutuhkan revis
DATA FOKUS
Data Subjektif:
Ny. W 28
tahun,Indonesia, Islam, SMA, ibu rumah tangga, dengan suami Tn. S, 35 tahun,
Indonesia, islam, SMA , buruh, gaji Rp. 600.000-/bulan, beralamatkan di
Jln.Melati No. 20 Kota sepi antah berantah. Pada tanggal 01 April 2013, pukul
11.00 WIB. Dengan keluhan Kesulitan bernafas, Kenaikan denyut
nadi, Nafas berbunyi, terutama saat menghembuskan udara, Batuk kering dan
Kejang otot di sekitar dada, ibu mengaku ini kehamilan yang pertama, usia
kehamilannya 7 bulan, bengan HPHT 07-9-2012, dengan riwayat menstruasi lamamnya
7 hari, siklus 28 hari dan ibu mengatakan bahwa ibunya mengidap asma + sejak
masih muda, Ny. W menikah sudah 9 tahun yang lalu. Ibu mengatakan pergerakan
janinnya ada 7 kali dalam sehari, dan ibu menyatakan dari hasil pemeriksaan tes
laboratorium darah pertamanya Analisa gas darah umumnya normal
akan tetapi terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis, pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan
LDH, Hiponatremia dan kadar leukosit diatas 15000 / mm3 dimana
menandakan terdapatnya suatu infeksi, Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi
terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas
dari serangan.
Data Objektif:
KU kurang baik,
kesadaran compos mentis, TD 110/70 mmHg, Nadi 89x/menit, Pernafasan 30x /menit,
suhu 38,5 ° C, BB 50 kg, BB sebelum 65kg, TB 163 cm, LILA 24 cm.Pada
pemeriksaan penunjang darah Analisa gas darah umumnya normal
akan tetapi terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis, pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan
LDH, Hiponatremia dan kadar leukosit diatas 15000 / mm3 dimana
menandakan terdapatnya suatu infeksi, Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi
terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas
dari serangan.
Assesment
diagnosa ibu
G1P0A0H0 usia kehamilan 28 minggu disertai asma bronkialis ,janin hidup,
tunggal, interauterin .
potensial masalah
hipoksia pada janin, tindakan segera membantu memperlancar pernafasan ibu
dengan tindakan :
atur posisi,
bersihkan jalan lahir dan berikan oksigen.
Planning
a.
Beritahu bu hasil pemeriksaan
b.
Menganjurkan ibu untuk tidur dengan posisi powler
c.
Memberikan oksigen pada ibu untuk membantu asupan oksigen
agar tidak terjadi hipoksia pada janin
d.
Memberikan dukungan emosional pada ibu agar tidak stress
e.
Memberitahu ibu penyebab penyakit asma adalah fakor allergen
f.
Menganjurkan ibu agar tidak kelelahan
g.
Menganjurkan ibu untuk menghindari asap
h.
Menganjurkan ibu untuk memeriksakan dirinya kepada dokter
spesialis
i.
Memberitahu ibu untuk kunjungan ulang
j.
Memberitahu ibu tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan tentang
tanda-tanda bahaya pada penyakit asma
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ø Asma adalah
penyakit imflamasi kronis saluran pernapasan dengan komponen herediter mayor,
terkait pada kromosom 5, 6, 11, 12, 14,
16, dan reseptor IgE dengan afinitas tinggi, sitokin, reseptor T-sel antigen.
Keadaan ini juga dihubungkan dengan dengan mutasi gen ADAM-33 pada rantai
pendek kromosom 20 pada individu yang terpapar rokok, influenza stimulasi
alergi akibat lingkungan ( ilmu kebidanan sarwono prawiroharjo 2008)
Ø
Asma bronkial adalah suatu
penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai
rangsangan dengan manifestasi adanya penyimpitan jalan nafas yang luas dan
derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan.
Kejadian ibu hamil dengan penyakit asma sekitar 0,4 – 1,3% dan 1% memerlukan
perawatan intensif. Perubahan asma pada kehamilan tetap, membaik, dapat
bertambah buruk
Ø
Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi
dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial.
a. Faktor Predisposisi
b. Faktor Prepisitas
Ø Tanda dan Gejala Asma Kesulitan
bernafas, Kenaikan denyut nadi, Nafas berbunyi, terutama saat menghembuskan
udara, Batuk kering, Kejang otot di sekitar dada
Ø Gejala klinis
Penilaian secara
subjektif tidak dapat secara akurat menentukan derajat asma.
Ø Jenis-Jenis Asma
a. Asma interisik (berasal
dari dalam)
b. Asma eksterisik (berasal dari
luar)
Ø Dapat dilakukan
pemeriksaan laboratorium seperti : Pemeriksaan
Sputum, Pemeriksaan darah
Ø Dapat juga dilakukan pemeriksaan penunjang
seperti:PemeriksaanRadiologi, Pemeriksaan tes kulit,
Elektrokardiografi, Scanning Paru, Spirometri dan USG
Ø Pengaruh asma
dalam kehamilan adalah keguguran, persalinan premature dan pertumbuhan janin
terhambat.
Ø Pencegahan agar
tidak terjadi serangan asma selama hamil dengan cara jangan merokok, mengenali
factor pencetus, hindari flu, batuk, pilek atau infeksi saluran nafas lainnya.
Ø Konsep manajemen
asuhan kebidan pada kehamilan dengan asma menggunakan cara verney:
-
Mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengidentifikasi
pasien secara lengkap
-
Mengidentifikasi masalah atau diagnosa berdasarkaan
interpretasi yang benar dari data tersebut.
-
Mengantisipasi masalah potensial atau diagnosa lainnya yang
mungkin terjadi karena masalah atau diagnosa yang telah di identifikasi
-
Mengevaluasi perlunya intervensi segera oleh bidan atau
dokter
-
Mengembangkan rencana asuhan yang menyeluruh
-
Mengembangkan rencana asuhan tersebut secara efisien dan aman
-
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang telah diberikan
B.
Saran
a.
Untuk Petugas
-
Mampu melasanakan asuhan kebidanan pada
ibu yang menderita penyakit asama dalam persalinan
-
Meningkatkan ushaa pencegahan infeksi
baik untuk klien maupun petugas.
-
Mampu memberikan KIE yang dibutuhkan
pada kala I, II, III & IV
b. Untuk pasien dan keluarga
-
Lebih kooperatif dalam pelaksanaan
asuhan kebidanan yang diberikan
-
Melaksanakan anjuran-anjuran yang
diberikan
c. Untuk Mahasiswa
-
lebih menguasai teori sehingga mampu
menerapkan dalam praktek
-
Lebih banyak membaca buku-buku /
referensi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.
DAFTAR PUSTAKA
Manuaba,dkk, Pengantar Kuliah obstetri,2007, Jakarta:
EGC
Yeyeh ai,
Yulianti Lia, Asuhan Kebidanan 4(Patologi
Kebidanan), 2010, Jakarta: TIM
Prawirohardjo
Sarwono, Ilmu Kebidanan Edisi keempat
Cetakan kedua, 2009, Jakarta: P.T Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar